
pagi itu ketika para penghuni zubair masih sibuk dengan mimpi2 mereka, para bidadari itu pun turun dan memulai melakukan tugas mereka. dengan memakai seragam yang khas, mengenakan sarung tangan, topi bundar, sapu garpu, gunting rumput, lap pel, sepatu bot.
bidadari yang pertama adalah mereka para penggunting rumput yang senantiasa memotong dan merapihkan tanaman2 di sekitar mahalah zubair. oleh tangan2 mereka lah rumput2 dan bunga2 tertata rapih.
bidadari yang kedua adalah mereka para pembersih halaman, mereka senantiasa menyapu halaman dengan sapu garpu mereka ditangan. sampah2 yang di buang begitu saja dari luar jendela, bungkus rokok, makanan, miniuman, dan segala macam sampah, mereka lah yang membersihkannya.
bidadari yang ketiga adalah, mereka yang membersihkan lantai2, aku tak pernah tau bahwa mereka mengepel lantai jalan yang sering di lalui oelh orang2, begitu besarnya tempat itu. tanpa rasa malu tanpa mengeluh mereka santap sarapan pagi mereka. mengepel
bidadari yang keempat adalah mereka yang senantiasa menyapu lantai2 asrama, apakah pernah terbayang mereka menyapu lantai tiap2 kamar dan membersihkan tiap kamar mandinya, dan itu terdiri dari 4 lantai. mereka tanpa rasa jijik membersihkan toilet yang terkadang masih ada sisa kotoran dari para manusia yang jorok nan biadab itu, dan mereka pun tak segan membersihkan piring2 dan peralatan makan yang kotor sehabis pesta2 orang biadab semalam.
mereka bukanlah orang2 yang hina, mereka bukanlah orang yang rendah, mereka bukanlah orang yang tidak berguna. mereka bekerja dari pagi2 bolong yang rata2 manusia masih sibuk berkeliaran di alam mimpi, mereka rela membuka mata lebar2 dan berkeringat di pagi hari, membersihkan sampah2 di sekeliling halaman, mereka adalah orang2 yang berharga walaupun mereka bukan orang berpendidikan tapi mereka lebih tau apa arti hidup itu, sekolah mereka adalah halaman, mereka menulis dengan sapu, menghapus dengan pel, menggunting dengan gunting rumput. di banding dengan para mahasiswa yang kerjaannya hanya bermain saja, bermain dengan uang orang tua mereka, bermalas2an, bermusik ria dengan keras di temani sebotol coca-cola. para bidadari itu lebih mengerti arti hidup, mereka lebih berharga.
ketika ku berjalan di pagi hari
ku lihat ada beberapa bidadari
menggunakan pakaian yang khas
lengkap dengan senjatanya
sapu garpu
gunting rumput
lap pel
sarung tangan
mereka rela membuka mata di pagi hari
si saat manusia masih sibuk di alam mimpi
dengan sabar mereka menyapu halaman
dengan sabar mereka membersihakan wc
dengan semangat mereka mengepel lantai
sungguh mereka sangatlah mulia
bekerja keras untuk keluarga dan diri mereka
demi beberapa ringgit saja
mereka adalah para bidadari di pagi hari di lingkungan kampus IIUM...


No comments:
Post a Comment