Disana, jauh dari negara asalnya, di sebuah kamar berukuran 2x3 seorang mahasiswa ekonomi, seorang alumni pondok pesantren darul arqam muhammadiyah daerah garut, sedang memikirkan seperti apa pondoknya sekarang, pondok yang pernah menampungnya selama 6 tahun, pondok yang memberi banyak pelajaran padanya, yang membuatnya lebih dewasa, yang menjaganya dari pengaruh pergaulan luar.
Entah mengapa malam ini dia begitu sangat sedih, ia baru saja tahu bahwa ada salah satu santri di pondok itu memproduksi film haram, dan salah satu santrinya juga ketahuan bercumbu di sawah. Sungguh kabar ini adalah kabar yang membuatnya terus berfikir, khawatir, sakit hati. Ia tidak rela pondoknya seperti itu, ia tidak rela pondoknya tercoreng oleh kelakuan2 santrinya yang sudah melewati batas.
Ia menjadi sangat takut, dengan keadaan pondoknya yang sekarang. Merebaknya gangster di dalam pondok, ramainya para santri yang duduk berlawanan jenis di mesjid Agung, di penuhinya rumah makan atau kedai baso oleh santri yang sedang di mabukan oleh yang mereka sebut cinta, banyaknya angkot2 berwarna biru langit dan putih yang berjurusan cilawu mengangkut para santri yang pulang sudah lewat batas magrib atau angkot berwarna orange jurusan sukadana yang kadang mengubah manuver menuju arah cilawu karena saking banyaknya santri di dalam angkot itu, dan bioskop yang sudah mulai di penuhi oleh para santri yang berjanjian untuk nonton dengan jadwal jam 2 siang atau jadwal jam 4 sore, atau dating di bandung ketika libur bulanan agar lebih bebas, atau mengorbankan sepanjang malam dengan berada di teras asrama sambil menempelkan handphone di telinga dan tidak masuk kelas subuh, atau mencuri sandal orang2 yang sedang berkunjung kerumah Allah, membongkar lemari kawannya sendiri untuk diambil uangnya, menyiksa adik kelas mereka dengan menggunakan nama lembaga.
Sungguh ia menjadi sangat bingung, bingung memikirkan itu semua. Akhirnya ia merasa sangat lelah, dan harus mengakhiri pikirannya itu walau semua itu harus di pikirkan kembali, ia harus membaringkan diri di ranjangnya, menutup matanya, dan bermimpi. Bermimpi berada di pondoknya sekarang.
Selesai di tulis pukul 02.30 menggunakan laptop teman dengan di temani segelas teh hangat tanpa gula seperti teh garut dan potongan-potongan roti tawar, di iringi lagu michael learn to rock, di atas sajadah usangnya. Alhamdulillah.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment