Ketika itu aku baru saja selesai shalat ashar di masjid sultan haji ahmad shah atau masjid UIA, aku kaget loh koq sepatuku ga ada, ternyata temanku menjahiliku, setelah aku menemukan sepatuku aku duduk disamping temanku yang sedang memakai sepatunya, tiba2 sang palestinian datang menanyakan pada temanku “is that your shoes?”. Temanku dengan wajah terkaget2 dengan spontan menjawab yes!. Padahal aku tahu itu bukan sepatu dia. Lalu sang palestine pun tidak mau kalah, ia yakin bahwa itu adalah sepatunya, dengan menunjukan beberapa ciri yang ada di sepatu itu, ada goresan di depannya, bagian belakang sepatu itu sedikit habis. Dan temanku juga entah bagaimana mungkin sudah tanggung jawab bahwa itu adalah sepatu dia, dia melanjutkan kebohongan dia,” yes i bought it in petaling street, if u dont believe ask my friend” seraya menunjuk kepadaku. Tapi si palestine pun tidak peduli, ia tetap mempertahankan argumennya bahwa itu adalah sepatu dia. Dan akhirnya temanku mengaku juga dan akan mengembalikan ke kamar sang palestine.
Sebenarnya aku juga tak tahu siapa yang benar, satu sisi temanku itu menemukan sepatu itu secara terpisah dan mungkin temanku berfikir bahwa sang pemilik sepatu itu sudah tidak membutuhkannya walaupun temanku itu tahu siapa pemilik sepatu itu, ia mempunyai banyak sepatu. Dan ternyata si palestine pun menagihnya, memang kalo di lihat dari style nya ia tidak seperti orang palestine biasanya dan mungkin tidak pantas di sebut orang palestine. Mungkin ia juga tidak benar2 tinggal di palestine. Menurut kabar2 dari temanku bahwa si palestine itu punya ¬girlfriend orang malaysia. Dilihat dari stylenya pun orang juga tidak akan terfikir bahwa dia orang palestine. Mengenakan jeans serta sepatu converse, memakai topi, dan berbagai gaya seperti orang barat atau seperti orang indonesia.
Terlepas dari siapa dia, kita harus tetap objektif, jangan melihat siapa orang itu dan bagaimana atau dari mana orang itu, kita harus tetap menghargai kejujuran. Di zaman sekarang begitu sangat mahal sebuah nilai kejujuran. Coba kalau saja temanku itu berbicara jujur dan apa adanya mungkin akan berbeda hasilnya.
Kita boleh benci pada seseorang, tapi harus tetap adil.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment